-->

Ngobrol Film: Dua Garis Biru: Cinta Remaja



Film Dua Garis Biru merupakan film yang cukup menuai kontroversi. Bahkan saking kontroversinya, banyak pihak yang kemudian beradu argument apakah film ini layak ditonton, utamanya oleh para remaja. Beberapa pihak bahkan sempat mengadakan boikot film Dua Garis Biru karena menganggap film ini tabu, vulgar, bahkan mengajak ke pergaulan bebas. Benarkah demikian?

Film yang menguras emosi 

Jika mau jujur, film Dua Garis Biru sebenarnya film yang cukup menguras emosi dan air mata penonton. Bagaimana tidak, film ini mengupas permasalahan yang muncul akibat kehamilan remaja diluar nikah yang masih belia dan usia sekolah.

Pahitnya pernikahan dini 

Beberapa waktu lalu UU mengesahkan bahwa usia minimal untuk menikah adalah 19 tahun baik perempuan maupun laki-laki. Perjuangan untuk menaikkan batas minimal ini tidaklah mudah dari sebelumnya 16 tahun. Usia yang masih dibilang remaja, dan bahkan banyak dari usia tersebut justru masih sekolah. Rata-rata yang menikah dengan dispensasi merupakan pasangan yang menikah karena hamil di luar nikah.

Namun begitu, trend beberapa tahun terakhir justru masyarakat Indonesia dikejutkan dengan berita pernikahan dini remaja usia sekolah dengan alasan menghindari zina. Menghindari zina bukanlah alasan untuk menikahkan anak dalam usia sekolah. Hal ini mungkin akan saya bahas lain waktu, supaya lebih fokus ke film Dua Garis Biru.

Melalui film Dua Garis Biru penonton diajak menyelami lebih dalam kompleksitas permasalahan yang anak-anak hadapi saat harus menjalani kehidupan pernikahan dalam usia dini. Dara adalah gambaran bagaimana perempuan yang hamil diluar nikah ataupun pernikahan usia dini mengalami kegetiran dan perbedaan justifikasi dari lingkungannya.

Adegan dimana kakak Bima tiba-tiba masuk dan memukul Bima karena kesal dan merasa malu akibat adiknya yang menghamili Dara, menyalahkan mengapa tidak memakai pengaman menjadi salah satu contoh dimana kehamilan diluar nikah juga menyebabkan dampak kepada seluruh keluarga.

Ligwina Hananto yang memerankan dokter kandungan mampu memerankan dengan baik saat menjelaskan kondisi kehamilan Dara sebagai salah satu content edukasi sex yang patut untuk disimak. Tutur katana sederhana dan mudah dimengerti tanpa harus menggurui. Dia berhasil menjelaskan edukasi seks tanpa membuat bingung dan berat.

Konflik yang sangat komplek dan melibatkan keseluruhan pemain menjadi jalinan brilian dari naskah yang ditulis. Bagaimana orangtua Dara dan Bima menetima kenyataan atas kejadian yang menimpa mereka juga layak untuk dinikmati.

Issue dalam film Dua Garis Biru 

Film Dua Garis Biru  mampu menghadirkan kenyataan pahit pernikahan usia dini dan kehamilan diluar nikah dengan apik. Film ini juga mampu menghadirkan isu kesetaraan gender dimana orangtua Dara murka karena Dara harus dikeluarkan dari sekolah karena dianggap membuat malu sedangkan Bima masih diijinkan sekolah dengan alasan jika Bima tidak sekolah, bagaimana dia akan menjadi ayah yang mampu membiayai keluarganya? Belum lagi, Dara sebagai perempuan seakan harus menanggung beban sendiri. Bagaimana terlihat perubahan fisik menjadi seorang ibu mempengaruhi mentalnya. Dara terus merasa ketakutan apakah keinginannya untuk kuliah bisa tercapai. Dia ingin sekolah tapi harus dirumah. Perubahan tubuh yang drastis, ASI yang merembes padahal hari melahirkan masih lama, tentu saja membuatnya terganggu.

Pesan hubungan antara anak dengan orangtua juga tersampaikan dengan baik melalui konflik antara Bima dan Dara dengan orangtuanya. Ibunda Dara mengalami fase denial yang lebih lama dibandingkan tokoh lain. Meskipun gagal berulangkali, dia tetap berusaha memperbaiki hubungannya dengan Dara. Sebagai ibu, ia merasa terpojok. Di satu sisi ingin menyelamatkan Dara tapi di sisi lain justru tidak mendukung keputusan Dara dan Bima. Begitupula dengan ibu Bima yang shock karena belum ingin memiliki cucu di usia yang masih muda namun juga ingin tetap mempertahankan bayi Dara.

Secara keseluruhan, film Dua Garis Biru berhasil mengangkat isue yang selama ini dianggap tabu oleh masyarakat. Film ini juga mampu membuka mata betapa pentingnya orangtua, selain membesarkan dan mendidik anak mereka supaya pintar dan rajin beribadah, namun juga perlu untuk memberikan edukasi sex pada anak mereka. Anak-anak perlu tahu bahwa tubuh mereka belum siap untuk memiliki bayi dan bisa mengancam nyawa. Ending dari film Dua Garis Biru yang bukan type Happily ever after mungkin bukan yang diharapkan semua orang saat menonton film. Namun ada ending yang memberikan pesan terbaik yang bisa diambil. Bahwa hidup seorang perempuan tidak harus berhenti atau hancur karena dia memiliki bayi. Dua garis biru memberikan harapan pada perempuan yang diluar sana yang mengalami kisah sama seperti Dara bahwa masih ada kesempatan kedua bagi mereka.
LihatTutupKomentar