-->

Nobrol Film: Preman Pensiun: Cerita Preman Bersahaja


Bagi para pemirsa televisi, Preman Pensiun merupakan sinteron yang populer dan wajib ditonton. Dengan dukungan actor kawakan seperti Didi Petet dan Epy Kusnandar, cerita yang berbungkus keseharian ini sangat dinantikan oleh para pemirsa setianya.

Plot Lanjutan Namun Dapat Dinikmati Siapa Saja 

Jika kalian bukan penggemar Preman Pensiun mungkin kalian akan sedikit merasa kebingungan dengan jalan cerita di filmnya. Masalahnya, plot cerita yang ada di film Preman Pensiun merupakan kelanjutan kisah yang ada pada sinetron. Namun jangan khawatir, anda masih tetap bisa menikmati filmnya kok.  Terlebih karena diawal film ada adegan dimana kang Bahar  (Didi Petet) memberikan mandate kepada Epi Kusnandar sebagai pengganti dirinya. Plot ini selain menjelaskan plot kepada penonton yang tidak menonton versi sinetron, namun juga memberikan memori tersendiri kepada penonton setia Preman Pensiun.

Citra Karakter Sinetron Yang diangkat ke Layar Lebar 

Seperti yang dijelaskan diawal, film Preman Pensiun merupakan kelanjutan dari versi sinetron Preman Pensiun yang berakhir tiga tahun lalu, bukan sebagai remake atau reboot dari versi seentron. Oleh karena itu, seluruh pemeran dari film ini benar-benar sama persis dengan versi sinetronnya. Yang lebih unik lagi, film Preman Pensiun merupakan film layar lebar pertama bagi sebagian besar pemain, kecuali Epi Kusnandar yang sudah pernah bermain film layar lebar beberapa kali.  Meskipun begitu, seluruh pemeran film ini terbilang sukses dalam membawakan citra setiap karakter ke layar lebar. Acting mereka sangat totalitas terutama karena Epy Kusnandar bermain dengan sangat baik dalam memerankan kang Mus.

Film Preman Pensiun juga dibuat dengan didedikasikan kepada mendiang Didi Petet. Penonton dibawa masuk dan merasakan semua emosi yang dirasakan oleh setiap karakter dalam film Preman Pensiun.  Film ini juga memiliki nilai lebih karena mampu mengenalkan kembali karakter dan plot cerita walaupun secara  sekilas agar penonton yang awam dapat mengikuti cerita dalam film dengan baik.

Kisah yang kompleks namun tidak meninggalkan ciri khas serial sinetron

Saat menonton kisah Preman Pensiun, cerita dibuat lebih kompleks dengan jalinan kerumitan hidup masing-masing pemeran. Ciri khas komedi satir yang dikemas dengan dialog berkelanjutan yang pas dan ringan masih tetap disajikan dengan kental.

Jika pada serial Preman Pensiun di televise sosok Kang Mus digambarkan sebagai sosok yang memiliki ketegasan kepada anak buah, di versi film Preman Pensiun ini sisi lain Kang Mus diperlihatkan dengan kenyataan kehilangan Kang Bahar, harus menghadapi mertuanya serta bagaimana menghadapi permasalahan mendidik putrinya yang sudah beranjak dewasa. Epy Kusnandar sebagai Kang Mus sangat lihai dalam memainkan emosi dalam karakter yang selalu berubah setiap saat.

Kekurangan 

Jika ada  hal yang menjadi kekurangan dalam film Preman Pensiun adalah seperti kakunya pemeran sampingan. Bisa jadi karena mereka belum terbiasa dengan layar lebar. Selain itu, keterlibatan preman asli dalam film Preman Pensiun juga menjadi salah satu hal yang mungkin menyebabkan beberapa adegan terasa kaku dan janggal. Preman asli ini dilibatkan agar efek nyata terasa.  Pendalaman acting dari preman asli ini menjadi kekurangan dan juga keunggulan dari film Preman Pensiun.

Di bagian script, ada terasa bagian yang jumping, mungkin saja bagian ini dimaksudkan agar suatu saat dapat dibuat  sequel dari film atau mungkin sebagai kelanjutan pada versi sinetron, entahlah. Yang jelas, terlepas dari kekurangan film tersebut, film Preman Pensiun sukses memberikan angin segar bagi industry film Indonesia.  Sutradara sekaligus penulis script bahkan menyiapkan script sampai H-14 sebelum jadwal syuting karena ingin agar script cerita yang terjalin benar-benar otentik dan masuk ke penonton.

Masukan bagi film Preman Pensiun 

Sebagai masukan, meskipun versi film Preman Pensiun sukses dan bahkan mampu memberikan background cerita mengenai asal muasal Preman Pensiun dengan adegan Didi Petet dan kang Epy di awal, serta bagaimana akhirnya para preman tersebut pensiun dan memilih untuk berdagang kecimpring, ada baiknya frame cerita diperlebar. Masukan tokoh-tokoh baru agar konflik dan cerita makin berkembang sehingga plot cerita pun makin berkembang dan tidak sekedar seperti mengobati rasa rindu penonton kepada sinetron kesayangan pemirsa televisi.
LihatTutupKomentar