-->

Pasar Papringan: Pasar Unik dengan nostalgia masa lalu




Pasar Unik dengan nostalgia masa lalu

Sepertinya masyarakat masa kini gak bisa move on dari masa lalu ya? Hehehe.. Jika dilihat kebelakang, beberapa tempat wisata dengan keragaman tradisional dan cita rasa nostalgia diburu oleh wisatawan. Begitupula dengan Pasar Papringan. Meskipun letaknya berada di tengah pelosok desa,  namun desa ini tetap diburu oleh para wisatawan dan utamanya para pencari spot foto andalan bagi feed instagram seperti saya, hehhehe.

Pasar Papringan  terletak di desa Ngadiprono, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Untuk menuju ke Pasar Papringan , anda bisa berjalan kaki sekitar 1Km atau naik ojek dari warga setempat.

Anda bisa memilih berjalan dijalan yang terletak ditengah hamparan sawah, menyenangkan bukan? Pasar Papringan  ini merupakan relokasi dari Pasar Papringan  lama yang ter;etak di desa Pekandangan. Pasar Papringan  yang baru memiliki lahan yang lebih luas, dan memiliki spot kreativitas dan permainan bagi anak. Anda bisa menikmati jajanan dan makanan tempo dulu. Bagi yang membawa anak, bersantai sejenak di ruang baca dan bermain akan sangat menyenangkan.

Anak-anak bisa bermain dengan permainan tempo dulu yang terbuat dari bahan bamboo seperti egrang, ayunan dan beberapa wahana permainan lainnya. Untuk lokasi kuliner, semua tertata dengan rapi dan membuat lidah ingin mencicipi makanan yang kini mulai langka. Anda bisa memesan wedang tape, dawet ayu, gudeg, kupat tahu, sega gono, pepes, dan masih banyak lagi. Sejumlah makanan khas pedesaan juga disajikan untuk menggugah selera. Semua yang dijual belikan di Pasar Papringan merupakan hasil murni masyarakat sekitar. Namun, sebelum anda bisa memakan semua masakan lezat tersebut, anda harus menukar uang koin dari bamboo. 1 uang koin bambu setara dengan Rp.2000. uang dari bambu tersebutlah yang kemudian digunakan untuk transaksi jual beli.

Ide awal dari Pasar Papringan adalah agar masyarakat kembali ke desa. Lokasi berjualan juga diletakkan di bawah pohon bamboo sehingga suasana terasa asri. Pasar Papringan sendiri didesain oleh desainer dari Thailand. Dibutuhkan waktu yang lama untuk mendesain tempat itu. Ditengah pasar, terdapat angka 8 yang menjadi lambang keberuntungan, dengan jalur lintasan yang tidak pernah putus.

Pasar Papringan dibuka setiap minggu Pon dan minggu Wage dan dibuka mulai pukul 06.00 sampai pukul 12.00 siang. Oleh sebab itu, jika anda ingin berkunjung ke Pasar Papringan  , disarankan jangan terlalu siang karena makanan hampir habis. Selain itu, jika anda akan menukarkan uang anda ke uang pring, jangan terlalu banyak, kecuali anda memang benar-benar ingin spend time untuk belanja disana, atau berniat untuk kembali ke Pasar Papringan . Hal ini karena uang pring yang ditukarkan tidak bisa ditukar kembali kedalam bentuk rupiah. Namun jangan kahwatir, jika uang pring anda sisa, anda bisa menggunakannya kembali jika berkunjung kembali ke pasar.

Pertunjukan kesenian tradisional

Tak hanya menghibur dan menyediakan pusat jajanan dan makanan tempo dulu, di Pasar Papringan  anda juga bisa menikmati kesenian tradisional, seperti gamelan.  Ditambah lagi, ketika anda mencicipi makanan di pasar, semua pembuingkus makanan terbuat dari bahan non-plastik.  Dengan demikian bahan bukan plastik lebih ramah lingkungan dan terjaga dari sampah. Dimulai dari alat ramah lingkungan seperti daun pisang, bamboo dan batok kelapa. Unik dan pastinya ramah lingkungan bukan?

Jangan khawatir dengan kebersihan, terjaga dan tetap hygienis kok. Di Pasar Papringan   ada tim sendiri yang bertugas mencuci alat makan dengan menggunakan buah lerak yang direbus sehingga lingkungan tidak tercemar. Selain itu, para pedagang yang ada disini juga menggunakan pakaian tradisional, sehingga pemandangan semakin unik. Jika anda ingin membawa pulang makanan yang ada disini, maka bawalah tempat makan atau tas belanja sendiri karena disini tidak diperbolehkan menggunakan kantong plastic.

Pasar Papringan   menjadi salah satu usaha revitalisasi desa yang berujung pada destinasi wisata. Dibeberapa tempat bahkan sudah banyak yang memulai desa wisata dan membuat pasar tradisional sejenis. Dengan adanya Pasar Papringan   sebagai destinasi wisata, tidak hanya memberikan penambahan wisata bagi daerah sekitar, namun juga memberikan wadah kreativitas bagi masyarakat.
LihatTutupKomentar