-->

Ngobrol Film: Once Upon A time in Hollywood


Satu lagi karya yang ditunggu-tunggu dari sutra Dara kawakan Quentin Tarantino, Once Upon A time In Hollywood.  Didalam film berdurasi 160 menit ini penonton diajak untuk melihat kejayaan dunia perfilman Hollyeood pada era 60an.

Dalam film, melalui Rick Dalton dan Cliff Both kita diajak untuk melihat suasana pada era 60an, mulai dari suasana saat syuting, mobie vintage hingga pests pests selebriti pada masa itu. Benar-benar visualisasi yang apik dan pas.

Gambaran kejayaan perfilman Hollywood 

Dengan menggambarkan kehidupan Hollywood, film ini juga bertaburkan bintang-bintang ternama. Mulai dari Leonadro Di Caprio, brad pit, Al Pacino, Kurt Rusel, Margot Robbie, Lorenza Izo, dan Margaret Qualley. Yang paling memukau saya adalah kualitas acting Leonardo Di Caprio. Actor ini mampu membuat emosi penonton naik turun, terutama pada adegan monolog Leo di ruang artis ketika menatap cermin dengan penuh letupan emosi.

Beban Leo dalam film ini termasuk berat. Memainkan peran sebagai Rick Dalton sekaligus memainkan peran lain yang harus diperankan oleh Rick sebagai actor. Ia harus berakting sebagai brand ambassador product, koboi, pasukan, dan masih banyak lagi. Begitu pula Brad Pitt yang mampu mengimbangi permainan Leo. Margot Robbie yang memerankan Sharon memancarkan charisma klasik.

Ciri Khas Quentin Tarantino 

Quentin Tarantino merupakan sineas yang memeiliki karakter spesifik dalam setiap filmnya. Baginya, spesifik film yang dibuatnya belum tentu sesuai dnegan sleera public atau trend saat ini. Quentin yang memiliki reputasi sutradara peraih 2 piala Oscar ini bisa jadi berpikiran” kalau loe gak cocok sama karakter film ghue, ya udah nonton yang lain aja deh”.

Tak heran. Quentin menjadi sutradara eksentrik yang memiliki penggemar loyal. Begitu pula dengan film Once Upon A time in Hollywood, menajamkan bahwasanya film ini merupakan ciri khas Quentin, film Once Upon A time in Hollywood tidak dibuat untuk konsumsi massal. Film ini diperuntukkan bagi kamu yang tahu sejarah industry perfilman Hollywood, khususnya di decade 1960an.

Di era itu, ada artis Sharon Tate yang merupakan aktris peraih penghargaan Gloden Globe sebagai Pendatang Baru paling Menjanjikan tutup usia pada usia 26 tahun karena dibunuh  bersama 4 temannya oleh penggemar Charles Manson.  Tewasnya Sharon menjadi tragedy paling buruk di Hollywood. 

Quentin lantas berandai-andai bagaimana jika Sharon belum tewas, bagaimana kisah hidupnya akan berjalan? Melalui Once Upon A time in Hollywood, Quentin menghidupkan kembali Sharon Tate. Namun begitu  Kisah Sharon merupakan tribute untuk sang artis dan bukan cerita utama. Cerita utamanya adalah Rick Dalton sebagai artis yang mulai pudar kharismanya sebagai bintang.

Bernostalgia dengan pop culture ala 60an

Mengangkat tema “Pada suatu ketika” maka konflik yang ditawarkan pada film inipun berada pada level suatu ketika. Kejadian yang tidak pernah disangka, terjadi di perumahan mewah Hollywood dan menimpa pesohor, membuat kita otomatis akan disuguhi dengan keseharian para bintang di era retro.
Melalui film ini Quentin mengajak penonton untuk bernostalgia dengan budaya pop culture era vintage.

Bagi kalian para penikmat film era vintage 60an dan 70an kalian pasti suka dengan referensi pop culture yang disajikan dalam film. Dalam film ini kumpulan pop culture favourite sutradara direpresentasikan dengan menarik. Sayangny bagi yang awam dengan  konsep pop culture vintage perlu bersabar hingga me pertengahan film untuk mengetahui essensi dari film. Jika and a sudah pernah mengetahui kisah pembunuhan The Manson Family maka memahami film ini akan lebih mudah.

Once Upon a Time in Hollywood menyajikan nostalgia dari 60an namun dengan sisi tragis.

Karakter-karakter yang dimainkan dalam film Once Upon A time in Hollywood sebagian besar merupakan tokoh nyata, pernah hidup atau mungkin saja masih hidup. Rick Dalton bisa saja fiktif, namun jika anda punya waktu untuk berselancar, maka anda bisa menemukan ada actor Rick Dalton yang bermain dalam film To Live and Die (1985). 

Terlepas dari ini, film Once Upon A time in Hollywood menghidupkan kembali tokoh-tokoh yang sebagian besar nyata. Kisahnya sendiri bergerak dari tahun 1969 hingga 6 bulan sesudahnya. Dengan keunggulan di aspek tata artistic, kostum, music hingga acting, akankah Once Upon A time in Hollywood memenangkan piala Oscar?
LihatTutupKomentar