-->

Mangkujiwo : Asal Muasal Kuntilanak


Kesuksesan film Kuntilanak semenjak tahun 2006 hingga 2019 dengan berbagai versi mulai horror gore hingga horror comedy, kini sebuah versi film Kuntilanak hadir dengann sentral cerita mengenai asal muasal dari Kuntilanak dan mengapa Kuntilanak menjadi sosok hantu yang sangat menakutkan.

Cerita dimulai dengan Kanthi yang dipasung

Cerita dalam film Mangkujiwo dimulai dengan adanya perselisihan antara Sujiwo Tedjo dengan Roy Marten. Perseteruan ini melibatkan Kanthi yang dipasung karena diangggap gila. Kanthi dihamili oleh Cokrokusumo dan masyarakat menganggap Kanthi mengandung anak setan karena fitnah kejam. Kanthi kemudian merasa dendam dan Brotoseno ( Sujiwo Tedjo) melihat hal tersebut lalu memanfaatkan hal tersebut untuk membalaskan dendamnya kepada Cokrokusumo (Roy Marten).

Dengan Kanthi, maka dimulailah pengaturan balas dendam dengan melibatkan kekuatan yang jahat dan gelap untuk melawan Cokrokusumo. Kekuatan jahat tersebut melibatkan medium dua cermin dimana salah satunya ada di Cokrokusumo dan salah satunya ada di Brotoseno. Tanpa diduga, ternyata kekuatan jahat dan gelap tersebut membuat keadaan menjadi semakin pelik dan membawa malapetaka yang justru lebih mengerikan.

Adegan horror gore yang sadis dan membuat perut kamu mual

Saat menonton Mangkujiwo maka persiapkan diri dan perut anda. Dalam film akan ada banyak adegan ritual yang melibatkan hewan yang mengerikan seeperti cicak, kelabang, ular, tikus. Membuat mual dan juga sekaligus  merinding karena ternyata salah satu pemainnya benar-benar memakan binatang binatang tersebut. Adegan ritual yang dilakukan oleh Sujiwo Tejo dibuat dengan detail yang mampu membawa penonton seakan ikut meracik ritual yang sedang dilakukan.

Adat dan suasana Jawa yang mencekam

Tak semua  film yang memmbawa unsur Jawa mampu ditampilkan dengan apik. Jika anda pernah melihat film Sang Penari, maka film itu adalah salah satu film yang berhasil membawakan adat Jawa dengan baik.  Dalam film Mangkujiwo, suasana adat Jawa ditampilkan dengan atmosfer yang khas. Mulai dengan para pemeran film yang mampu membawakan logat Jawa dengan baik , pembuatan setting. Perlengkapan benda benda yang dianggap keramat, pakaian yang menyesuaikan dengan laatar waktu di film, bahkan hingga proses penampilan versi lagu jawa Lingsir Wengi yang dijamin membuat merinding. Di film Mangkujiwo ini juga sedikit diceritakan mengapa lagu Lingsir Wengi dipakai untuk memanggil Kuntilanak.

Dengan jalinan cerita  yang lebih gelap membuat film Mangkujiwo terasa membuat bergidik para penontonnya.  Meskipun alur maju mundur di film ini dapat membuat penonton menjadi sedikit bingung, namu secara keseluruhan film ini mampu hadir sebagai spin off dari Kuntilanak garapan Rizal Mantovani dari Kuntilanak universe yang mulai di produksi semenjak tahun 2006.

Penulisan scenario dibuat lebih focus kepada pengembangan dan pembangunan karakternya. Sangat berbeda dengan cerita sekadar seorang perempuan hamil yang  dibunuh dan menjadi setan yang gentayangan dan menuntut balas dendam. Film ini memang menjadi terasa gelap dan lebih berat serta film mengalun dengan sangat lambat. 

Ada beberapa setting yang mengingatkan pada versi Kuntilanak di versi sebelumnya. Jika anda masih ingat dengan sosok Karmila di Kuntilanak 2009 dimana Karmila merupakan keturunan langsung dari Mangkujiwo yang mampu untuk memanggil Kuntilanak memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri daripada harus mengorbankan anaknya yang baru lahir sebagai tumbal.  Di film Mangkujiwo, Karmila muncul kembali sebagai kolektor barang antik yang memiliki harga jual yang tinggi. Karmila diceritakan sebagai sosok yang antagonis yang menghalalkan segala cara dan merupakan rekan bisnis dari Cokrokusumo. 

Tak  banyak jumpscare di  sini. Namun penataan adegan horror dan suasana  yang mistis membuat film Mangkujiwo menjadi tampil mengerikan terlebih dengan permainan acting Sujiwo Tedjo. Beruntunglah film Mangkujiwo ini digawangi oleh actor dan actris  kawakan seperti Sujiwo Tedjo, Jenar Maesa ayu, Roy Marten, Asmara Abigail, hingga actor pantomime Septian Dwi Cahyo.

Duet Jenar Maesa Ayu dengan Sujiwo tedjo pada akhir film menjadi  pamungkas bagian terbaik dalam film Mangkujiwo. Kedua bintang ini kerap kali muncul bersama sebagai pemain pendukung namun justru dari chemistry keduanya inilah yang membuat film ini menjadi bintang.
LihatTutupKomentar