-->

Si Manis Jembatan Ancol 2019 : Remake Legenda Urban



Kisah Awal Si Manis yang Belum banyak diceritakan 

Hantu Si Manis kembali muncul di penghujung tahun 2019. Si Manis Jembatan Ancol merupakan film yang sudah berulang kali dibuat dengan versi yang berbeda-beda. Si Manis Jembatan Ancol merupakan urban legend yang dikenal luas oleh masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Konon ceritanya, si Manis adalah seorang perempuan muda yang dibunuh dengan sadis lalu kemudian tubuhnya dibuang dari Jembatan Ancol dan kemudian bangkit untuk menuntut balas kepada orang-orang yang sudah membunuhnya. Cerita ini kemudian di ceritakan secara turun temurun dari generasi ke generasi dan kemudian popular sebagai legenda Si Manis Jembatan Ancol .

Bukan Film Keluarga 

Jangan harap anda bisa menemukan sense yang sama dengan sinetron Si Manis Jembatan Ancol dengan hantu si Manis yang seksi dengan baju backless seperti Kiki fatmala atau Diah Permata sari. Dalam film Si Manis Jembatan Ancol versi sutradara Anggy Umbara ini di setting pada tahun

Jika pada setting sinetron Si Manis pada tahun 90an lebih ditujukan sebagai tontonan untuk keluarga, maka pada film ini ditujukan untuk film horror dan dewasa. Terlebih dengan adanya adegan perkosaan yang dialami oleh Maryam dan juga adegan hubungan vulgar sesama jenis antara Bang Ozy dengan Yudha yang tak pantas jika dilihat oleh anak-anak.

Selain itu, adanya adegan sadis juga dapat membuat mual ketika Maryam membalaskan dendamnya dengan berbagai cara yang sadis dan kejam.

Versi baru yang berbeda pada versi 90-an

Di decade 90-an, ada dua versi sinetron Si Manis Jembatan Ancol yang ditayangkan di televisi. Versi pertama adalah Si Manis yang diperankan oleh Diah Permata Sari dan yang kedua adalah Kiki Fatmala. Kedua versi sinetron tersebut berusaha untuk melepaskan diri dari image horror dari versi film horror yang diambil dari film produksi tahun 1973 yang diperankan oleh Kris Biantoro dan Lenny Marlina.

Entah apakah bisa dibilang sebagai kebetulan atau tidak, namun film ini bisa dibilang memiliki plot yang agak mirip dengan film Suzzana: bernapas dalam kubur yang juga di sutradari oleh Anggy Umbara. Kedua film ini sama-sama menceritakan kisah seorang perempuan yang di aniaya oleh beberapa lelaki kemudian meninggal dan menuntut balas kepada yang sudah menyakitinya. Namun jika dibandingkan dengan Suzzana. Tensi ketegangan yang dihadirkan masih lemah. Plot yang digunakan masih monoton dan terasa datar selain itu banyak pula logika cerita yang tidak rasional dan rancu.

Pesan Women empowerment yang kuat 

Dalam film Si Manis Jembatan Ancol ini, kita bisa juga menarik kesimpulan akan pesan women empowerment dari tokoh Maryam. Tercermin dalam bagaimana Maryam mencoba untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Roy meskipun sedang emngalami krisis keuangan serta kekerasan dalam rumah tangga. Bagaimana akhirnya Maryam berkenalan dengan Yudha dan menjadi model lukisan yang menyebabkan Roy cemburu karena melihat kedekatan Yudha dengan Maryam. Kecemburuan inilah yang kemudian membuat Roy gelap mata dan menyuruh preman Ozy Syahputra untuk membunuh istrinya.

Maryam dalam film dianggap sebagai objek kepunyaan dari roy dimana roy tanpa belas kasihan membuat Maryam sebagai jaminan hutang kepada rentenir yang kemudian menyebabkan malapetaka.

Meskipun begitu, satu lagi, Maryam justru tak pernah menjadi subyek dalam film ini, lagi-lagi dia menjadi objek bahkan setelah dia mati. Maryam tetap menjadi objek meskipun sudah sebagai hantu.

Plot twist yang berbeda tak tak terduga 

Plot twist yang dihadirkan oleh sutradara sama sekali tak terduga. Meskipun memiliki kategori film yang seram serta sadis, namun berkat keahlian para pemain membuat film ini menjadi semakin kaya. Dark komedi yang dilemparkan sukses membuat penonton untuk sejenak melupakan kesadisan dan kekejaman Maryam yang membabi buta semenjak di pertengahan hingga akhir film. Penonton diajak untuk merasakan sensasi kemarahan, sedih dan kesal saat menyaksikan film tersebut.

Secara keseluruhan, film ini mampu menghidupkan kembali mitos urban legend dengan cara bertutur dan perspektif yang berbeda. Meskipun diakui bahwa inovasi cerita tersebut membuat beberapa sisi menjadi lebih buruk, hal ini terutama pada sisi rasionalitas dan logika bercerita yang masih kurang. Akibatnya hal ini menjadi perjalanan cerita menjadi kurang menarik dan datar.

LihatTutupKomentar