-->

Review Film 1917


Untuk penyuka film action khususnya film perang, maka film 1917 karya sutradara Sam Mendes wajib untuk kalian tonton. Jika di awal-awal, film 1917 sebenarnya memiliki jalan cerita “tidak terlalu istimewa”. Mengisahkan tentang dua tentara muda Inggris , Schofield dan Blake yang harus melintasi wilayah teritori Jerman untuk menyampaikan pesan penting kepada resimen tentara Inggris di bagian depan.

Pesan tersebut sangat penting karena bisa mencegah kematian 1600 tentara Inggris, dimana salah satunya adalah kakak Blake. Kisah penyelamatan dalam perang ini selintas terkesan hampir sama dengan film “Saving Private Ryan” bukan? Namun jangan terburu-buru dalam menyimpulkan, mari kulik lebih jauh mengenai film 1917 yang meraih penghargaan di Golden Globe Awards 2020 ini.

Faktor yang membuat film 1917 menjadi sangat istimewa bahkan hingga mampu meraih penghargaan di ajang bergengsi semacam Golden Globe dan meraih 10 Nominasi di Oscar adalah bagaimana eksekusi film tersebut berlangsung. Sutradara Sam Mendes yang jugabertindak sebagai produser dan penulis naskah menggap film 1917 dengan menggunakan teknik “one-shot”.

Teknik “One Shot” yang keren 

Sang Sutradara berani mengambil resiko dengan menggunakan teknik One shot pada pengambilan gambar. Dengan menggunakan teknik one-shot penonton akan diajak untuk melihat film sedari awal hingga akhir dengan melalui sudut pandang satu kamera. Hal ini berarti, sepanjang film camera person harus bisa bergerak mengikuti gerakan actor selama berlakon.

Tentu saja hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah bagi actor dan camera person. Apabila actor salah berlakon atau lupa dialog serta camera person salah menggerakan kamera maka adegan yang sudah direkam akan sangat terpaksa untuk di ulang.

Belum lagi apabila camera person ternyata dalam mengambil gambar goyang karena tidak seimbang. Meskipun ada alat yang mampu untuk menyeimbangkan kamera, tetap saja teknik one-shot merupakan teknik yang sulit untuk dilakukan terlebih sebagian besar film 1917 diambil dengan teknik ini.

Jika penonton jeli dan mencermati, ada transisi dalam beberapa adegan ketika pengambilan gambar one-shot terhenti untuk kemudian disambung kembali namun kesemuanya terasa halus dan membatasi film ini dalam menyajikan sinematografi yang hampir sempurna. Salah satu adegan terbaik adalah adegan ketika Schofield berlari dalam ladang perang penuh ranjau.

Selain dari teknik pengambilan gambar, salah satu hal yang menarik dari film 1917 adalah penggarapan naskah yang dibuat dengan sedemikian rupa sehingga penonton di buat tegang menjadi penasaran akan apa yang terjadi dalam film dengan kejutan cerita di dalamnya meskipun cerita bersentral pada dua karakter utama saja.

Jika ada yang hendak dijadikan kekurangan dalam film ini, maka sulih suara yang terkadang tidak sinkron dengan mulut dapat menjadi salah satu catatan. Namun demikian hal ini bisa menjadi hal yang dapat dimaklumi dikarenakan film ini dibuat dengan menggunakan teknik one-shot.

Salah satu film Perang terbaik 

Tak dapat dipungkiri bahwa film 1917 merupakan salah satu film perang terbaik. Tak ayal jika film ini mampu menyabet penghargaan Best Director dan best Motion Picture dalam ajang penghargaan Golden Globe Awards 2020.

Dengan renggang waktu 8 jam semenjak Blake dan Schofield menerima perintah dari Jenderal untuk menyampaikan surat, Sam Mendes mampu membuat detil dalam film adegan demi adegan yang membuat ternganga. Kita diajak untuk merasakan kengerian perang karena misi ini bisa disebut dengan misi bunuh diri karena mereka harus melewati daerah yang dikenal dengan No man’s Land  yang merupakan area kosong dimana belum diduduki oleh siapapun dan tidak tahu apa yang akan ditemui sepanjang perjalanan 17 km terlama tersebut.

Pandangan tumpukan mayat, lubang-lubang parit perlindungan yang begitu dalam sehingga bisa menyebabkan kematian jika terjun ke bawah sana, gas kimia yang mematikan, hingga ancaman kematian kapan saja yang selalu mengintai. Penonton akan dikejutkan dengan bagian kawat yang tersangkut di pagar kawat, tubuh yang membusuk dan tangan yang menjulur dari bawah parit.

Semuanya melukiskan kengerian akan perang. Ikut merasakan ketegangan dan kengerian dua tokoh utama yang harus berjuang berdua dan tetap waspada dimanapun berada.

LihatTutupKomentar