-->

Review Film The Invisible Man



Satu lagi film horror yang layak untuk di tonton di akhir bulan februari, The Invisible Man.  The Invisible Man merupakan film yang diadaptasi dari novel karya HG Well. Karya ini sebelumnya pernah naik ke layar lebar pada tahun 1933.

Film sci-fi horror yang menegangkan 

Digarap oleh sutradara Leigh Whannel yang dikenal sebagai penulis naskah film horror Saw dan Insidous, tentunya level horror dari The Invisible Man sudah tidak diragukan lagi. Melihat cuplikan trailernya saja pasti kalian sudah merasa mencekam.

Dan benar saja, ada banyak adegan-adegan kejutan yang akan membuat kalian gelisah ketika menonton film ini. Misalnya ketika Cecilia berada di loteng rumah yang gelap gulita. Tak hanya itu, perpindahan ruangan demi ruangan yang mencekam, dimana Cecilia mengalami siksaan dari suaminya, dibuat dengan kesan yang begitu suram. Sang sutradara dengan sangat jenius menggambarkan Cecilia sebagai korban yang tak berdaya, baik sebagai seorang istri bahkan ketika dihantui oleh sosok yang tak terlihat.

Elisabeth Moss sebagai pemeran utama menggiring pujian karena perannya mampu melampaui ekspektasi. Elisabeth Moss memerankan Cecilia Cass yang menjalani hubungan toxic dengan suaminya Adrian Griffin yang merupakan seorang ilmuwan yang brillian namun abusive. Suatu ketika Cecilia memutuskan kabur dan tinggal dengan seorang kawan yang juga seorang polisi. Hingga suatu hari Cecilia mendengar kabar bahwa suaminya meninggal dan memberikan sebagian besar kekayaannya kepada Cecilia.

Namun demikian Cecilia tidak percaya begitu saja dengn kabar kematian suaminya. Cecilia selalu merasa bahwa sesuatu selalu mengawasinya tanpa pernah diketahui keberadaanya. Hal tersebut membuat orang di sekitarnya mempertanyakan kewarasan Cecilia karena ia selalu berusaha untuk membuktikan bahwa dirinya selalu diburu oleh sosok yang tidak terlihat. Memainkan karakter yang paranoid, membuat Elisabeth Moss patut mendapatkan acungan jempol.


Kelebihan dibanding versi pendahulu 

Jika bisa dibilang, film The Invisible Man versi kali ini memberikan klimaks dan scoring paling tinggi dibanding versi pendahulunya. Secara keseluruhan, dimulai dari aspek pemeran, penokohan, hingga scoring, memiliki banyak kelebihan dan bisa dibilang cukup berhasil sebagai film yang layak untuk ditonton.

Untuk yang tidak terbiasa dengan adegan – adegan mengerikan serta adegan darah dimana-mana , ada baiknya cari pegangan tangan saat menonton. Atau paling tidak bersiap tutup mata melihat kengerian yang disajikan. Ada pula beberapa adegan sadis yang ditampilkan. Rotten Tomatoes meter memberikan nilai 90% serta audience score dengan nilai yang sama.

Mengakhiri kutukan universal pictures 

Film The Invisible Man seakan mengakhiri kutukan Universal Pictures yang belakangan film-film Dark Universe produksinya selalu anjlok. Semula, film The Invisible Man akan masuk dalam chart Dark universe bersamaan dengan film reboot klasik termasuk The Mummy, Dracula, Dr.Jekyl/Mr  Hyde. Bisa dibilang, film ini merupakan penyegaran dari bencana film “The Mummy” milik Universal yang di caci maki habis-habisan oleh kritikus film.

Bahkan pemeran utama Tom Cruise mendapat nominasi sebagai Aktor Terburuk di Razzie Awards. Hal inilah yang kemudian membuat Universal menghentikan proyek Jagad Sinema Monster Klasik milik Universal.

Untuk itu, Universal menggandeng Blumhouse yang memang sudah terbukti dalam menghasilkan film-film horror yang sukses. Terlebih dengan biaya produksi yang terhitung hemat karena hanya manghabiskan 1 digit, dengan dimodali hanya 7 juta dollar AS The Invisible Man diperkirakan akan mengeruk keuntungan dengan mudah dari peredarannya di seluruh dunia.



LihatTutupKomentar