-->

Etika Pariwara Indonesia: Pedoman Bagi Pengiklan dan Pelindung Bagi Hak-hak Masayarakat

 Etika Pariwara Indonesia: Pedoman Bagi Pengiklan dan Pelindung Bagi Hak-hak Masayarakat

Karya iklan memiliki sebuah kode etik yang namanya Etika Pariwara Indonesia (EPI). Terakhir diamandemen pada Februari 2020 lalu.

EPI jadi landasan dalam setiap aktivitas periklanan di Indonesia, baik itu perorangan maupun kelompok. EPI bertujuan untuk kemajuan industri dan jadi salah satu bentuk kepedulian terhadap usaha perlindungan konsumen dan masyarakat.

EPI harus dipahami BUKAN sebagai HAMBATAN dalam aktivitas periklanan. Namun, harus menjadi sebuah TANTANGAN yang sebisa mungkin disiasati dengan cerdas. Termasuk di dalamnya bagaimana membuat sebuah copywriting dengan cerdas!

EPI sebagai penyeimbang antara kepentingan bisnis dengan hak-hak konsumen dan masyarakat.

Penggunaan EPI ini ada dalam media promosi, dalam bentuk cetak maupun elektronik. Termasuk di dalamnya ada MEDIA SOSIAL.

EPI ini sangat bagus sebagai PEDOMAN dan PENGINGAT bagi para pembuat iklan agar tidak menyesatkan dan melanggar hak-hak konsumen.

Misalnya, membuat materi iklan (copywriting dan visual) yang cenderung KLAIM BERLEBIHAN. Klaim berlebihan ini seperti menggunakan KATA-KATA SUPERLATIF.

Apa itu kata superlatif? Superlatif adalah TINGKAT perbandingan yang TERATAS  (bentuk kata yang menyatakan paling, yaitu ter-)

Hal ini sesuai dengan isi EPI bagian Tata Krama yang membahasa mengenai Bahasa.

1.2.1 Iklan harus disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan tidak menyesatkan khalayak.

1.2.2 Iklan tidak boleh menggunakan kata-kata superlatif seperti “paling”, “nomor satu”, ”top”, atau kata-kata berawalan “ter“, dan/atau yang bermakna sama, kecuali jika disertai dengan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bukti yang dimaksud adalah penjelasan sah berupa survei atau riset dari lembaga independen kredibel yang menjelaskan tentang pencapaian sebuah produk.


HUKUM POSITIF TENTANG PERIKLANAN

1. KUH PERDATA/BW, tentang Perdagangan

2. KUH PIDANA, tentang Perdagangan

3. UU RI No. 8/1999, tentang Perlindungan Konsumen

4. UU RI No. 40/1999, tentang Pers

5. UU RI No. 32/2002, tentang Penyiaran

6. UU RI No. 18/2012, tentang Pangan

7. PP RI No. 69/1999, tentang Label dan Iklan Pangan

8. PP RI No. 109/2012, tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan

9. SK Menteri Kesehatan RI No. 368/Men.Kes/SK/IV/1994, tentang Pedoman Periklanan Obat Bebas, Obat Tradisional, Alat Kesehatan, Kosmetika, Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga, Makanan-Minuman

10. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 76/2013, tentang Iklan Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga

11. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1787/2010, tentang Iklan dan Publikasi Pelayanan Kesehatan.

Dalam Etika Pariwara Indonesia, ketika beriklan menggunakan kata gratis, tidak boleh ada syarat lain. Gratis ya gratis aja. Kalo pake syarat dan ketentuan berlaku, dalam tulisan copy-nya gausah mencantumkan kata gratis.

Misal ya,..

Dapatkan 1 piring cantik tiap pembelian Sabun Mandi YOI kemasan 1kg. Syarat dan ketentuan berlaku.

Kata gratisnya ganti jadi dapatkan. Begitu. Kalo nulis gratis = 100% gratis tanpa syarat apapun.


LihatTutupKomentar