-->

FILM REVIEW: FREEDOM WRITERS


FILM REVIEW

Judul Film        :    FREEDOM WRITERS

Sutradara         :   Richard LaGravenese 

Skenario          :    Richard LaGravenese

Pemeran          :   Hilary Swank, Patrick Dempsey,

                              Scott Glenn

Durasi              :   122 menit

Produksi          :   MTV Films, Jersey Films

Putar perdana  :   Januari 2007


Film ini dibuat berdasarkan buku The Freedom Writers Diary, yang disusun oleh Erin Gruwell dan para muridnya. Tulisan yang tersusun dari jurnal/buku harian yang berisi kisah nyata kehidupan murid-murid tersebut, merupakan tugas pelajaran bahasa Inggris di sekolah Woodrown Wilson Classical High School, di Long Beach, California – USA.

Kisah dimulai ketika Erin diterima sebagai tenaga pengajar di sekolah tersebut dan mendapatkan tugas mengajar ruang 203, yang merupakan kelas freshmen (kelas 1 SMU), program integrasi, yaitu kelas yang berisi murid-murid dari multi etnis dengan latar belakang kehidupan yang beragam (rata-rata dari kelas bawah dan anak-anak yang hidup di jalanan). Selain latar belakang yang kurang menguntungkan, anak-anak tersebut juga memiliki nilai rata-rata yang rendah.

Bisa dibayangkan bagaimana repotnya Erin menyesuaikan diri di tengah para murid remajanya yang pada awalnya lebih sering mengabaikannya dan asyik dengan urusan mereka sendiri-sendiri. Urusan yang tidak luput dari persoalan perkelahian antar geng, obat bius dan senjata api. Tetapi Erin tidak putus asa, meskipun dirinya sama sekali tidak mendapat dukungan dari sekolah untuk program dan metode pembelajarannya. Erin dianggap buang-buang waktu dan tenaga untuk murid-murid yang dianggap “bodoh” oleh guru-guru yang lain dan cenderung dikesampingkan karena menurunkan akreditasi sekolah mereka.

Erin akhirnya bisa mengambil hati murid-muridnya dengan mengajarkan materi dengan cara-cara yang tak biasa, tetapi bisa diterima oleh anak-anak tersebut. Diantaranya adalah tugas membaca buku salah satunya adalah tentang kisah remaja yang terlibat perkelahian antar geng, juga mengajarkan tentang pemahaman bahwa tidak ada gunanya membeda-bedakan ras, dengan mengunjungi salah satu museum korban Perang Dunia II (Holokaus) dan mendengarkan cerita warga Yahudi yang menjadi korban kamp konsentrasi pada PD II tersebut.

Suatu saat Erin memberikan jurnal, semacam buku harian, kepada setiap muridnya yang boleh diisi apa saja. Menurut Erin, siapa saja berhak mengungkapkan setiap persoalan yang membebani dirinya melalui tulisan. Erin tidak akan membaca jurnal-jurnal tersebut kecuali atas ijin pemiliknya. Bu guru itu juga menyediakan satu sudut lemari di kelas untuk meletakkan jurnal bagi siapa saja yang mengijinkan tulisannya untuk dibaca. Jurnal-jurnal ini kemudian dibukukan dengan judul The Freedom Writers Diary.

Guru yang berdedikasi, berusaha menanamkan kebaikan dan nilai-nilai positif pada murid-muridnya, memang sangat dibutuhkan dari dulu sampai sekarang. Guru yang mau menggali potensi dan karakter positif tiap muridnya, juga memahami dan mengerti latar belakang serta persoalan mengapa seorang murid tidak mampu memahami materi atau tidak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan (bukan sekedar memperhatikan nilai dan kemampuan akademiknya saja).

Itulah Erin Gruwell, guru sekaligus pendiri Freedom Writer Foundation yang bergerak di bidang pendidikan dengan tujuan dan program meningkatkan kemampuan para guru untuk lebih memberdayakan para siswanya agar meraih kesuksesan.

Film ini sangat menginspirasi. Rating 4 dari 5 bintang.


#reviewfilmkamaksara

#nontonfilm

Picture taken from Pinterest

LihatTutupKomentar