-->

Jembatan Progo, Temanggung Saksi Bisu Pembantaian dan Eksekusi 1200 Orang Indonesia oleh Belanda

Jembatan Progo, Temanggung

Saksi Bisu Pembantaian dan Eksekusi 1200 Orang Indonesia oleh Belanda

mwv_mystic


Di Temanggung ada sebuah lokasi bersejarah dan penuh darah masyarakat Indonesia. Namanya adalah Jembatan Progo. Jembatan yg membentang di atas Kali Progo.

Jembatan ini menjadi lokasi sejarah pembantaian warga sipil dan non sipil oleh Belanda disaat masa Agresi Militer yang dilakukan Belanda tahun 1948-1949 pasca kemerdekaan Indonesia.

Pembantaian ini adalah buntut dari keluarnya perintah penyerbuan markas Belanda yang ditanda tangani oleh Kolonel Bambang Soegeng untuk mengantisipasi sekaligus serangan balasan bagi gerakan agresi militer Belanda.

Tidak terima akan diusir lagi dari Indonesia, Belanda kemudian menyisir setiap tempat untuk mencari dan menangkap para tentara Indonesia yang diduga akan menjadi personel penyerbuan tersebut. Namun nyatanya, penangkapan itu berlangsung acak.

Warga sipil pun ikut ditahan dan mengalami interogasi yang sangat tidak manusiawi. 

Para tahanan yang sudah disiksa dan diinterogasi tadi kemudian akan dibawa dengan penutup mata dan kaki yang diikat ke Jembatan Progo.

Disinilah eksekusi itu dilangsungkan. Para anak bangsa itu ditebas lehernya atau ditembak. Setelah itu, jasad pahlawan yg telah wafat itu didorong atau ditendang sehingga jatuh ke dasar kali progo dan hanyut.

Eksekusi inipun kadang dilihat oleh warga sekitar yg kebetulan sedang beraktifitas di dekat jembatan. Menurut keterangan, setidaknya 2 hari sekali akan ada eksekusi disana. Warga mengetahuinya dengan bunyi letusan tembakan.

Sementara penemuan mayat yang mengambang tanpa kepala atau kepala pecah bisa dikatakan selalu ada tiap harinya. Dan bukan hal aneh jika dikatakan warna kali progo saat itu kemerahan bercampur darah dan berbau anyir.. Total sedikitnya 1200 orang yg dibunuh di jembatan ini.

Untuk mengenang para korban, saat hari pahlawan biasanya para veteran sering mengunjungi jembatan itu dan melakukan tabur bunga, mengenang teman2nya yg gugur.

Selain itu, terdapat sebuah Monumen Bambu Runcing didirikan untuk bentuk rasa penghormatan pada para pahlawan. Dan disana tertulis : 


Aku ta’ ketjewa, aku rela...Mati untuk tjita-tjita sutji nan mulja: Indonesia merdeka, adil,makmur dan bahagia.

Temanggung, 22/12-48-10/8-49 


Namun jembatan bersejarah ini kini hanya tinggal kenangan. Akibat lapuk dimakan usia dan banjir yang menggerus jembatan membuatnya ambruk beberapa tahun lalu.

Sekarang jembatan itu telah digantikan dengan jembatan modern baru dan membuat jalur kendaraan menjadi dua arah. Tamat




LihatTutupKomentar