-->

Kasus Pencurian Hajar Aswad dan Tumpukan Jasad di Sumur Zamzam

 Kasus Pencurian Hajar Aswad dan Tumpukan Jasad di Sumur Zamzam


Hajar Aswad merupakan salah satu batu yang disakralkan oleh umat Islam. Menurut hadits, Hajar Aswad adalah batu yang berasal dari surga dan memiliki warna putih bersih dan bercahaya, namun kemudian berubah menjadi hitam akibat dosa manusia.

Melekat di bagian sudut selatan bangunan Ka'bah, batu ini disunnahkan untuk dicium sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Orang orang yang tawaf saat haji ataupun umrah rela berdesak desakan untuk bisa mencium hajar aswad ini.


Sementara itu sumur zam zam adalah lokasi dimana terpancarnya air zam zam yg terus keluar sejak pertama kali ditemukan oleh Siti Hajar diantara bukit safa dan marwah. Biasa dipakai untuk memberi minum warga Mekkah dan jamaah haji. Ini bekas "pagar" sumurnya yg sudah dimuseumkan.


Keduanya menjadi lokasi penuh sejarah dan nilai yang berharga bagi umat islam. Apalagi keduanya berada di jantung kota Mekkah di Masjidil Haram 1 dari 3 mesjid utama bagi muslimin selain Masjid Nabawi di Madinah dan Aqsa.

Perlu diketahui, Hajar Aswad yang menempel sekarang di Ka'bah hanyalah lempengan kecil berjumlah 8 buah. Yang kita lihat hitam itu adalah sejenis lilin yang digunakan untuk merekatkan lempengan2 yg telah pecah.


Awalnya ia merupakan suatu batu utuh, namun ada 3 momen yang membuatnya terkikis, retak, dan terpecah sehingga tersisa seperti sekarang.

Yaitu saat dicongkel dan dicuri oleh Syiah Qaratimiah tahun 317 H, dihantam menggunakan pahat sebanyak 3x di tahun 413H dan dihantam lagi hingga tercerai berai menggunakan sejenis kapak/gada pada 990 H.


Kali ini kita bahas kejadian yang memulai ini semua, peristiwa pencongkelan Hajar Aswad dan pembantaian jamaah haji di tahun 317 Hijriyah.. puluhan ribu orang tewas, masjidil Haram dibanjiri darah, dan ka'bah dikencingi oleh seorang yang terlaknat..

Sejarah mengerikan ini terjadi pada tahun 317 H pada masa pemerintahan al Qahir Billah Muhammad bin al Mu’tadhid. Sosok yang dengan lancangnya melakukan kejahatan tersebut adalah  Abu Thahir, Sulaiman bin Abu Said al Husain al Janabi, tokoh golongan Qaramithah.

Qaramithah salah satu sempalan Syiah di era Dinasti Fathimiyyah. Pencetus paham ini adalah seorang Yahudi yang mengaku masuk islam dan mengclaim dirinya berasal dari ahlul bait sehingga banyak suku barbar kala itu menjadi pengikutnya.

Pada musim haji tahun 317 hijriyah, tepat pada hari Tarwiyah tanggal 8 Dzul Hijjah, di hari yang suci, di lokasi yang juga suci itu, orang-orang Qaramithah melakukan huru-hara di tanah Haram.

Mereka merampok harta-harta jamaah haji dan menghalalkan darah para jamaah haji tertumpah di Mekkah. Pasukan penganut Paham Qaramithah itu meringset masuk dari pintu gerbang Mekkah sampai ke Masjidil Haram.

Jamaah haji saat itu sedang banyak dan mereka tidak dapat menghindari serangan tersebut, apalagi mereka hanya mengenakan ihram. Pembantaian terjadi dengan sangat mengerikan. Darahpun tertumpah di hadapan Ka'bah, satu persatu jamaah haji tumbang bersimbah darah.

Sementara jamaah haji yg lain panik dan berhamburan kearah pintu pintu Masjidil Haram. Namun mereka dihadang oleh para pengikut sekte Qaramithah tadi. Lalu dari arah pintu masuk Masjidil Haram, sang tokoh pimpinan Qaramithah yang bertanggung jawab dengan kerusuhan ini, Abu Thahir.

Ia berdiri dikelilingi para pengikutnya dan meneriakan sesuatu yang seakan menantang perang terhadap kaum muslimin seluruhnya..

“Saya adalah Allah! Saya bersama Allah! Dia-lah yang menciptakan makhluk-makhluk!. Dan sayalah yang akan membinasakan mereka!”

Para jamaah haji terkepung. Banyak yang mencoba memanjat kiswah ka'bah namun gagal karena hunusan pedang kaum syiah menebas mereka hingga tewas. Para ahli ibadah, imam, dan ulama yang terdapat disana dibunuh dengan kejinya.

Tak butuh waktu lama, seisi masjidil haram tewas di tangan Abu Thahir dan pengikutnya.

Jasad2 bergelimpangan di masjidil haram. Darah berceceran dimana mana. Perusuh dari Qaramithah mengacungkan senjata mereka tanda kemenangan. Namun semua masih belum cukup bagi Abu Thahir.

Ia kemudian memerintahkan pasukannya  untuk melemparkan jasad jasad jamaah haji dan orang2 yang berada di sekitar masjidil haram itu ke sumur zamzam. Kubah yang menaungi sumur zamzam dirobohkan sehingga menimbun sumur tersebut bersama jasad jasad didalamnya.


Sebagian jasad korban yg tidak dimasukkan dalam sumur zamzam  dikuburkan di tanah2 sekitar Masjidil Haram.

Masih belum cukup penghinaan yang ia lakukan pada umat islam dengan pembantaian dan perusakan sumur zamzam, kini Abu Thahir mengalihkan objek kejahatannya ke Ka'bah. Arah kiblat umat islam yg merupakan peninggalan nabi Ibrahim dan dihormati muslimin.

Ia memerintahkan pasukannya untuk melepas kiswah (kain penutup ka'bah) lalu menurunkannya kebawah. Lalu kain tersebut ia robek2 dan hinakan di depan para pasukannya. Potongan kiswah yang sudah ia robek robek kemudian dibagi2kan ke pengikutnya.


Kemudian ia meminta talang air yg berada diatas ka'bah untuk dilepaskan, namun anggota pengikutnya yg ia perintahkan terjatuh dari atas ka'bah tewas. Kemudian ia mengurungkan niatnya melepas talang tersebut dan beralih menghancurkan pintu ka'bah hingga rusak.

Hal terakhir yang menjadi incarannya adalah hajar aswad. Abu Thahir memerintahkan pengikutnya untuk mencongkel hajar aswaq dari tempatnya.  Para pengikutnya kemudian memukul hajar aswad dan mencongkelnya terlepas dari Kabah.

Ada atsar yang menyebutkan, saat melakukan ini, Abu Tharir mengencingi ka'bah sembari menantang Allah dgn menatap kearah langit dan berkata
“Dimanakah burung-burung Ababil? Mana bebatuan dari Neraka Sijjil?” katanya seakan meminta azab yg turun pada Abrarah diturunkan juga padanya.

Hajar Aswad pun lepas dengan kerusakan akibat hantaman dan congkelan yang dilakukan oleh pengikut Abu Thahir..

Peristiwa penjarahan Hajar Aswad ini, membuat Amir Mekah dan keluarganya dengan didukung sejumlah pasukan mengejar mereka ke masjidil haram. Amir Mekah berusaha membujuk Abu Thahir agar mau mengembalikan Hajar aswad ke tempat semula.

Seluruh harta yang dimiliki Sang Amir telah ia tawarkan untuk menebus Hajar Aswad itu. Namun Abu Thahir tetap bersikeras. Bahkan karena sudah dianggap menganggunya, Sang Amir pun menjadi korban keganasan Abu Thahir setelahnya.

Abu Thahir menduduki Mekkah selama 11 hari. Namanya menjadi yang paling ditakuti saat itu karena kebengisan yang ia lakukan dan tidak ragu menumpahkan darah muslim. Tidak ada yg berani memprotes apalagi menantangnya.

Kemudian Abu Thahir bersama pasukannya pulang menuju daerahnya dengan membawa Hajar Aswad dan harta-harta rampasan dari jamaah haji. Hajar Aswad kemudian ia bawa kembali ke daerahnya, sebuah tempat bernama Hajr (Ahsa), dan tersimpan disana selama 22 tahun .

Selama kurun 22 tahun tersebut pula, seluruh jamaah haji maupun umroh tidak mendapati momen mencium hajar aswad di ka'bah.. batu dari surga itu hilang dan dicuri oleh orang fasik.

Perbuatan Abu Thahir, orang yang memerintahkan penjarahan Hajar Aswad ini, oleh Ibnu Katsir dikatakan : “Dia telah melakukan ilhad (kekufuran) di Masjidil Haram, yang tidak pernah dilakukan oleh orang sebelumnya dan orang sesudahnya”.

Butuh waktu cukup lama untuk Mekkah pada umumnya dan Masjidil Haram khususnya untuk mengembalikan stabilitasnya. Mengebumikan para syahid yg dibunuh saat berhaji, dan menggali lagi sumur zamzam dan mengangkat jasad-jasad di dalamnya yang sudah merubah warna air zamzam menjadi merah.

Setelah berlalu sejak 22 tahun Hajar Aswad jatuh dalam penguasaan Abu Thahir, ia kemudian mengembalikannya secara sukarela tanpa tebusan. Tepatnya peristiwa ini terjadi pada tahun 339H.

Pada saat mengungkapkan kejadian tahun 339 H, Ibnu Katsir menyebutnya sebagai tahun berkah, lantaran pada bulan Dzul Hijjah tahun tersebut, Hajar Aswad dikembalikan ke tempat semula. Peristiwa kembalinya Hajar Aswad sangat menggembirakan segenap kaum Muslimin.

Sebenarnya dari tahun tahun sebelumnya pun, muslimin dan raja raja Arab sudah melakukan berbagai usaha dan upaya untuk mengembalikannya sudah dilakukan. Amir Bajkam at Turki pernah menawarkan 50 ribu Dinar sebagai tebusan Hajar Aswad. Tetapi, tawaran ini ditolak oleh Abu Thahir.

Kaum Qaramithah ini berkilah: “Kami mengambil batu ini berdasarkan perintah, dan akan mengembalikannya berdasarkan perintah orang yang bersangkutan”.

Pada tahun 339 H, sebelum mengembalikan ke Mekah, orang-orang Qaramithah mengusung Hajar Aswad ke Kufah, dan menggantungkannya pada tujuh tiang Masjid Kufah. Agar, orang-orang dapat menyaksikannya.

Lalu, saudara Abu Thahir menulis ketetapan : “Kami dahulu mengambilnya dengan sebuah perintah. Dan sekarang kami mengembalikannya dengan perintah juga, agar pelaksanaan manasik haji umat menjadi lancar”.

Akhirnya, Hajar Aswad dikirim ke Mekah di atas satu tunggangan tanpa ada halangan. Dan sampai di Mekah pada bulan Dzul Qa’dah tahun 339H. Tangisan haru menyambut pemasangan kembali Hajar Aswad kala itu setelah sekian lama dirampas

Ketika Hajar Aswad dikembalikan, Abu Thahir sendiri sudah meninggal 7 tahun sebelumnya yakni tahun 332H akibat penyakit kulit ganas yang menimpanya. Ia tewas karena penyakitnya itu di umur 38 tahun.

Setelah Abu Thahir tewas, kekuatan sekte Qaramithi menurun hingga akhirnya tidak lagi ditakuti sebagaimana sebelumnya. Ibadah haji dilangsungkan kembali seperti normal, dan diberikan perisai perak di sekitar hajar aswad.

Namun peristiwa yang menimpa Masjidil Haram tidak hanya sampai disini, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam telah mengabarkan juga momen besar yang akan terjadi disana kelak. 

Tamat.


Referensi Bidayah wa An Nihayah, Ibnu Katsir

Kutipan dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun X/1427H/2006 Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta,

Kutipan dari https://t.co/7yqXrLEV1a

mwv_mystic

LihatTutupKomentar