-->

Merokok Itu Melanggar Fitrah, Tidak Ada Manusia Yang Lahir Langsung Merokok ~ Sebuah Renungan



BACA DULU SAMPE SELESAI, BARU BULI SAYA

Membaca komen di kepceran ini, saya mengucap istighfar berkali-kali.


Coba simak baik-baik. Kalimat pembukanya berbunyi: "Merokok itu melanggar fitrah, ga ada manusia lahir langsung merokok."


Wah. Renungkan. Dalam kalimat itu, berarti sudah ada asumsi dasar bahwa apa pun yang sesuai dengan fitrah mesti langsung dilakukan oleh seorang manusia begitu dia lahir.


Fitrah manusia, sebagaimana makhluk hidup pada umumnya, adalah bertahan hidup dan melanjutkan keturunan. Oke, bayi lahir langsung ngenyut ASI. Klir. Tapi soal melanjutkan keturunan gimana? Apa juga langsung dilakukan begitu bayi dilahirkan? Mana ada bayi ceprot keluar langsung belajar ngeseks?


Jadi, betulkah bahwa "apa pun yang sesuai dengan fitrah mesti langsung dilakukan oleh seorang manusia begitu dia lahir"?


Itu baru problem pertama.


Kedua, coba simak sekali lagi: "Merokok itu melanggar fitrah, ga ada manusia lahir langsung merokok."


Nah, kalimat pembuka itu juga mengandung makna bahwa apa pun yang tidak langsung dilakukan oleh manusia begitu dia lahir merupakan hal yang melanggar fitrah.


Wah wah. Berarti ada jutaan hal yang bisa disebut melanggar fitrah.


Apakah manusia lahir langsung nonton tivi? Enggak. Berarti nonton tivi melanggar fitrah.


Apa manusia lahir langsung main hape? Boro-boro. Tangan aja masih nggegem. Berarti main hape melanggar fitrah.


Apa manusia lahir langsung posting IG story? Blas enggak. Berarti posting story melanggar fitrah.


Dan jutaan hal lainnya akan sama nasibnya. Main PUBG melanggar fitrah. Makan Rocket Chicken melanggar fitrah. Japri-japri melanggar fitrah. Sepedaan melanggar fitrah. Dengar musik melanggar fitrah. Nyanyi Indonesia Raya melanggar fitrah. Ikut coblosan Pilkada melanggar fitrah.


Dan seterusnya dan seterusnya.


***

Itu baru dua masalah pada kalimat pembuka. Belum kalimat selanjutnya.


Kalimat berikutnya itu berbunyi: "Kalau merokok memang keren, hal pertama yang mesti diajarkan kepada anak-anak kita adalah merokok."


Waduh. Ada premis dasar dalam kalimat itu bahwa indikator keren-tidak-nya sesuatu adalah ketika ia menjadi hal pertama yang mesti diajarkan kepada seorang anak.


Sekarang, apa coba hal paling keren yang terlintas dalam pikiran Anda? Baca buku? Olah raga? Mencegat barisan moge atau laskar road bike? Aksi kemanusiaan ke Palestina? Pengumpulan donasi untuk teman yang kena musibah? Nonton drakor? Naik gunung? Pake masker non-stop demi prokes bahkan sampe tidur pun pake?


Mana di antara itu semua yang menjadi hal pertama yang diajarkan kepada anak-anak?


Gak ada satu pun. Gak ada satu pun.


***

Ini sama sekali bukan sedang "membela rokok". Di Kelas Menulis IAD pun, berkali-kali saya membantu peserta yang antirokok untuk mengartikulasikan pandangan antirokoknya.


Itu sudah jadi tugas saya sebagai mentor menulis. Mau antirokok mau antinyamuk mau antimabok, sebuah tulisan mesti solid, dengan argumen yang kuat, dengan narasi yang tersaji cakep dan minim bolong-logika.


Makanya, keliru kalau mengira muatan utama yang saya sampaikan dalam kelas adalah soal-soal ejaan semacam EYD. Bahkan sisi itu sangaaaat jarang saya beri perhatian khusus, kecuali memang ada tulisan peserta yang terlalu banyak problem ejaannya, salah ketik dan sebagainya.


Selebihnya, yang paling pokok dari menuliskan gagasan/pandangan adalah bagaimana argumen dibangun, sehingga pembaca teryakinkan dengan pendapat kita (penulis), dan dari situ persuasi tercipta.


Tanya aja para alumni kelas saya. Jarang sekali saya mempersoalkan teknis pengetikan. Ada sih, tapi biasanya saya posisikan bukan sebagai masukan utama. Tapi kalau soal bolong logika, sudah pasti dengan serius saya bantu menatanya. Barulah menyusul kemudian tentang relevansi, fokus, komposisi, dan kebaruan ide.


Itulah kenapa, berlatih menulis itu bukan cuma untuk menjadi penulis. Ada hal sangat mendasar yang dibangun dari proses belajar menulis, yaitu tertib berpikir--sesuatu yang dibutuhkan oleh siapa pun, dari bidang apa pun.


Maka, untuk teman-teman antirokok yang kepingin kampanye antirokoknya bisa disampaikan dengan lebih logis dan gembira, bisa bergabung di Kelas Menulis Online IAD Angkatan ke-16. Jangan tunda lagi, Indonesia membutuhkan kalian.


Klik langsung untuk pendaftaran:

https://menulis.orderonline.id/kelas-menulis-reguler-IAD


Selamat mendaftar, dan jangan khawatir di dalam kelas terpapar asap rokok, sebab kelasnya pake grup Telegram.

LihatTutupKomentar